Pernik-pernik di rantau Yusuf & Murni, tinggal di Edgware, Middlesex, Inggris dengan Zaki si buah-hati yang lahir 3 April 2003.

Bila ingin melihat melihat foto-foto yang lain, silahkan menulis ke murniandyusuf@yahoo.com

   

<< August 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed




Sunday, August 22, 2004
Bersih-bersih itu Macho

Mas Yusuf senang sekali tersenyum-senyum menjelang pukul 8 malam (GMT) ketika saya duduk manis mendegarkan musik pembuka yang diikuti sosok Aggie dan Kim, sang pembawa acara How Clean is your House (Sebersih apa rumah anda?, pen.) di Channel 4 .

Dengan gaya Ibu-ibu centil, mereka masuk ke rumah sebuah keluarga/bujangan dan menjerit atau komat-kamit dalam semenit. Kamera mengarah ke lantai karpet bau anjing, serangga-serangga kecil berkeliaran di lantai dapur, sofa buluk, kompor tertutup lemak sisa menggoreng atau debu 2 cm yg melapisi lemari pajang.

"Kamu seneng banget,sih liat acara jorok kayak gitu,"(salah-satu) komentar suami.

Program ini mengupas rumah-rumah sangat amburadul di Inggris dan membersihkannya. Selama 25 menit, kedua perempuan 40-an bersama tim pembersihnya menyikat habis seluruh kotoran dan penghuni bukan manusia dengan tips menghilangkan lemak tebal di kompor, menyikat permukaan bak mandi, kloset atau lemari kayu antik. Bersama-sama dengan seluruh kliennya -orang-orang yang mau dibuka rahasia kejorokannya -mereka memandu dan memantau apakah dua minggu kemudian  rumah terjaga kebersihannya atau sebaliknya.

Mulanya saya menonton karena slotnya setelah Channel 4 News setiap pukul 7 malam (Senin-Jumat). Geli juga menyaksikan rumah seorang pembersih (cleaner) tak pernah dibersihkan sedikitpun selama bertahun-tahun. Alasannya karena sudah capek.   Lain hari, Ibu rumah-tangga dengan tiga anak; tempat tidur penuh dengan baju, lantai dengan mainan. Ada pula seorang pemain pasar uang yang berpenampilan rapi namun di dapurnya Kim menemukan 93 kaleng makanan anjing. Alasannya, tidak punya waktu dan tidak tahu harus mulai darimana.

Yang menarik dari program ini karena bersih-bersih ternyata bukan hal yang setiap orang dapat mengerjakan secara tepat dan reguler. Sebagian orang ternyata tidak tahu bagaimana cara membersihkan kaca, apalagi tahu bahwa campuran cuka, baking soda dan air yang diletakkan dalam wadah semprotan  mampu menghapus berbagai noda yang membekas. Seperti halnya mengkilapkan meja kayu mahoni dengan kaos kaki bekas. Membungkus boneka kain (soft toy) dengan sarung bantal sebelum mencucinya supaya tak rusak. Lalu cukup digantung setelah selesai tanpa dikeringkan.

Kim dengan sarung tangan merah-muda berbulu mengandalkan bahan-bahan yang biasa dipakai sehari-hari -cuka,jeruk nipis, baking soda- untuk membersihkan tanpa harus menggunakan aneka macam produk-produk pembersih yang memenuhi satu lorong di supermarket.

Yang lebih menarik, semua klien lega setelah rumahnya bersih dan sebagian bekerjasama dengan suami dan anak-anaknya supaya rumah tidak kembali jorok. Ini menunjukkan mereka mau membersihkan setelah mengetahui caranya. Meski cuek disentil supaya mengganti saluran, saya menganggap bersih-bersih itu :

a.keahlian yang bisa dipelajari dan mendatangkan keuntungan secara finansial 
b.kebiasaan yang memerlukan waktu dan tenaga 
c.(menjadi) kebutuhan yang tercipta karena pilihan A

Untuk beberapa saat saya melihat program tersebut tanpa memikirkan ketiganya. Baru Sabtu lalu, 14 Agustus, saat membuka lembar-lembar Weekend-nya the Daily Telegraph, saya ganti tersenyum. Artikel bertajuk "Domestic Gods" itu mengajukan 6 cara membuat laki-laki mau bersih-bersih:

-Tampilkan sisi machonya
-Buatlah jadwal siapa yang harus berbuat apa,kapan
-Lakukan secara bertahap, puji dia dan tunjukkan bagaimana lebih baiknya sesuatu tampak (setelah dibersihkan)
-Yakinkan bahwa bersih-bersih itu pekerjaan laki-laki; bicaralah tentang "alat-alat pembersih", beri tugas sederhana yang membutuhkan otot dan kekuatan
-Tunjukkan bahwa bersih-bersih merupakan olah-tubuh yang bagus
-Bila cara-cara sebelumnya gagal, sogok pun berlaku. Ajak makan malam kegemarannya atau suatu siang menonton bola tanpa gangguan

Hmm, boleh juga tipsnya. Pikiran segera melayang pada usaha membuat mas Yusuf mau belajar membersihkan kaca dengan bahasa lelaki. Sedikit merajuk atau merayu bisa pula efektif.

Namun yang lebih menarik lagi dari artikel ini adalah Spontex Men's Cleaning Academy di bagian akhirnya . Sebuah perusahaan dibentuk untuk memenuhi kebutuhan laki-laki yang ingin belajar membersihkan. Akunya Akademi Kebersihan pertama bagi laki-laki. Tarifnya £750 untuk kursus dua hari Sabtu dan Minggu. Per ORANG.  

Ada yang mau?

Sang penulis menceritakan pengalamannya mengikuti kursus ini. Menurut manajer senior produk Spontex, dalam surveynya 76% laki-laki menggunakan sikap tidak perduli (ignorance) sebagai dalih untuk tidak berbuat lebih (dalam hal bersih-bersih).

Untuk itu,  suasana maskulin ditonjolkan, yakni menyatakan bahwa sapu, kemucing, pengisap debu sebagai alat seperti halnya gergaji listrik, obeng dan tatah. Kemudian membuat lomba siapa yang tertinggi membersihkan kaca. Hasilnya? Sehabis kursus mereka merasa bangga tahu cara menyetrika atau teknik menyikat tempat cuci-piring. Ada bahkan yang ingin memberhentikan tukang bersih-bersihnya karena kini sudah mengerti caranya.

Terus-terang, ide bisnis ini inovatif. Bila selama ini jasa pembersih di Inggris masih dianggap pekerjaan kasar berdasarkan gajinya (£4-£10/jam), maka kursus lebih dari £40/jam itu terjual karena sikap sebagian laki-laki telah berubah terhadap kebersihan.
 
Bukan mereka lantas ingin membersihkan semuanya, melainkan berbagi tanggung-jawab dengan pasangannya. Bagi yang bujangan mungkin ini cara jitu mengambil-hati orang yang dicintainya. Yang lain karena menghemat biaya menggaji pembersih dengan jalan mengerjakannya sendiri. Bersih-bersih untuk lelaki bukan lagi memalukan malah meningkatkan rasa percaya dirinya.

Dalam sebuah liputan Newsnight tentang kehidupan gaya-hidup wanita membujang di Jepang, ada pula kursus teknik membersihkan bagi para pensiunan (laki-laki). Pekerjaan yang masih kerap identik dengan "urusan istri" ini menyenangkan bagi para suami yang tidak lagi bekerja itu karena mereka kini dapat menyenangkan istri-istrinya. Membuatnya tetap dihargai.  

Mas Yusuf masih tetap menggodaku, sedangkan Kim&Aggie menambah jumlah tabungannya dengan menuliskan tips yang mereka punya. Padahal, Masku ini tidak perlu mengeluarkan sejumlah uang tersebut dengan kursus gratis dari istrinya.

Omong-omong, apa pendapatnya kalo si istri jadi konsultan bersih-bersih?

Bisa nggak,ya ini diterapkan di Indonesia?
 


Posted at 05:06 pm by murniati

 

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments




Previous Entry Home Next Entry