Sambil menyeduh kopi saya bergerak dari dapur ke ruang tamu. Di Breakfast, Natasha Kaplinsky dengan intonasi serius mengabarkan adanya bom meledak di Kedubes Australia di Jakarta. Raut cantiknya tegang. (Saat itu) Enam orang meninggal. Lagi-lagi ??? pikir saya sambil mendengarkan suara koresponden BBC di Jakarta.
Dua jam kemudian beberapa kawan mengirimkan foto-foto amatir situasi setelah bom di sekitar lokasi. Seorang rekan menulis di salah-satu milis,"Satu menit yang lalu bom meledak di Kedutaan Besar Australia. Gelegarnya bisa terdengar dari kantor saya...".
Kurang lebih 40 menit kemudian saya asyik memantau berita-berita di situs Jakarta Post, TEMPO Interaktif,Kompas Cyber Media, Jawapos, Detik dan Liputan 6. Ada yang mengutuk, ada yang mengeluarkan peringatan supaya tidak bepergian ke Indonesia, ada yang berkeluh-kesah, ada yang bilang modusnya sama dengan bom di Bali & hotel Marriott. Liputan 6 menyebutnya Bom Kedubes Australia, beberapa rekan di milis menjuluki Bom Kuningan atau Plaza 89.
Esoknya muncul refleksi dan informasi lanjutan yang terus bergulir. Dibawah ini dua contoh yang saya ambil dari Liputan 6 dan Kompas:
Pertama, kutipan dari Fokus Kompas, 10 September 2004:
Enough is enough! Cukup sudah semua kebiadaban ini. Tiga tahun berturut-turut menjadi ajang pemboman besar dengan banyak korban jelas penghinaan. Penghinaan terhadap pemerintah Indonesia, dan penghinaan terhadap bangsa Indonesia.
Kedua, paragraf terakhir bertajuk "Indonesia Kembali Menangis" di Liputan 6:
Apa pun modus operandi peledakan ini, yang pasti peristiwa itu membuktikan bahwa Polri dan aparat keamanan Indonesia kembali kecolongan. Kondisi keamanan Indonesia pun kembali dipertanyakan dunia internasional. Kasus ini menoreh luka dalam bagi Indonesia setelah Bom Bali dan Marriott. Dan ironisnya lagi, peristiwa ini terjadi ketika masyarakat Indonesia sedang menyongsong pemilihan presiden putaran akhir. Akankah bom demi bom kembali mengguncang Tanah Air hingga negeri tercinta ini harus terus menangis?
Dalam kedua tulisan diatas, ekspresi sangat geregetan -marah,masygul,jengkel- dan penyesalan terekam kuat atas kembali terjadinya pemboman berkekuatan besar yang kembali menaikkan citra buruk Indonesia.
Penggunaan kalimat enough is enough diatas bagi orang Inggris berarti sudah tidak perlu ada toleransi lagi, wong sudah disabari malah nglunjak; dengan kata lain mungkin editornya berpesan sudahlah hukum saja seberat-beratnya pelaku pemboman. Artikel tersebut menganggap bahwa kembali terjadinya pemboman adalah penghinaan terhadap bangsa Indonesia selama tiga tahun berturut-turut (paska 9/11).
Tajuk Liputan 6 pun menyarankan hal yang serupa. Pernyataan Da'i Bachtiar tentang kondisi keamanan yang kondusif menjelang pemilihan presiden minggu depan dianggap tak bertuah. Istilahnya kecolongan. Artinya tidak menyalahkan namun menyayangkan kelemahan Polri.
Opini dalam Jawa Pos Online, 13 September 2004 menyarankan kelemahan Badan Intelijensi Nasional (BIN) dalam memprediksi aksi lanjutan teroris.
Sambil membaca berbagai analisis dan menelaah kalimat-kalimatnya, ada satu hal yang media tidak tulis: apakah media patut berintrospeksi seperti halnya Polri dan BIN?
Saya bertanya-tanya: apa saja yang media cetak,TV,maya dan radio beritakan dalam konteks pengeboman tiga tahun terakhir? Adakah berita-berita lalu atau tulisan khusus dari para analis yang mengingatkan publik setelah Oktober 2002 bahwa bom bisa terjadi lagi? Saat itu, saya pun larut dalam keprihatinan setelah ratusan orang mati di Kuta dari foto-foto di the Guardian dan the Times. Terlebih lagi sedih melihat ekspresi muka tak bersalah pelakunya setelah divonis hukuman mati.
Saya tidak melihat ada artikel yang memprediksikan terjadinya kasus serupa. Begitu huru-hara mereda, berita-berita yang muncul adalah lesunnya pariwisata Bali. Tidak ada artikel seperti halnya yang Winston Churchill tulis tentang indikasi penggalangan kekuatan oleh Jerman dan kemungkinan Jerman menyerang Inggris dua tahun sebelum Perang Dunia II pecah.
Saya menganggap dalam konteks ini media pun ikut kecolongan. Fungsi kontrol sosialnya tumpul dengan memuat gosip selebriti dan gosip politik yang lebih menjual. Contohnya riuh-rendah soal Pemilu dan tudingan lemahnya sistem Teknologi Informasi disain Komisi Pemilihan Umum. Jadi teringat ekspresi Basuki Suhardiman saat pembajak situs merubah tanda gambar partai di halaman tabulasi suaranya di Radar Surabaya beberapa bulan silam. "Sopo sing gak mangkel omahe dileboni maling" (Siapa yang tidak jengkel rumahnya dimasuki pencuri, pen). Mungkin begitu rasanya. Khoq bisa, ya?
Pemilihan waktu meledaknya bom saat para jurnalis baru masuk kantor pun menarik. Tidak perlu mengintip isi media kompetitor. Agenda pun satu dan sumber daya pun tercurah ke satu isu. Bergegas datang ke lokasi untuk mengambil foto-foto dramatis dan emosional dari lokasi. Meriset artikel-artikel penunjang. Berusaha mengontak nara-sumber vital yang sulit ditembus. Memuat perkembangan akhir setiap jam. Tujuannya: menggugah amarah dan kengerian publik.
Fitur korban pun muncul; salah satu korban meninggal seorang Ibu yang (saat berita dimuat) belum diketahui apakah sang putri tewas atau selamat. Lalu diteruskan dengan kemungkinan lumpuhnya Elisabeth, sang anak yang selamat di berita nya hari ini. Hal yang menyengat perasaan puluhan juta Ibu-ibu.
Untuk liputan ini, saya menanyakan hal lain: tidakkah sebaiknya media meninggalkan sang ayah yang sedang berduka sendirian? perlukah perkembangan Elisabeth dimuat untuk memaku perhatian pemirsa?
Peter Conrad di the Observer kemarin mendiskusikan etika pemotretan korban tragedi penyanderaan teroris Chechnya di Beslan, Russia pekan lalu. Ia bertanya: seharusnyakah kita meninggalkan seorang Ibu yang sedang memandangi anaknya yang terluka sendirian? Etiskah para fotografer memotret gadis beranjak dewasa yang digendong keluar oleh salah seorang regu penyelamat dengan menampakkan celana dalamnya?
Seharusnya memang tidak semua informasi dapat disajikan secara instan hanya karena teknologinya memungkinkan. Seharusnya pemuatan hal-hal yang sensitif seperti privacy patut diendapkan dan ditunggu perkembangannya sebelum dimuat. Sebelum semua orang tahu bahwa seorang Ibu secara tragis selamat sedangkan putrinya mati.
Mungkin saya terlewat membaca tulisan bernas dia media yang mengajak publik dan pemerintah tetap awas. Mungkin saya salah. Namun, sembari menulis saya terus menghela nafas; miris melihat kualitas isi media Indonesia dengan dua jempol menunjuk ke bawah.
Seharusnya media pun mengakui bahwa mereka pun khilaf.
Posted at 09:00 am by murniati