Pernik-pernik di rantau Yusuf & Murni, tinggal di Edgware, Middlesex, Inggris dengan Zaki si buah-hati yang lahir 3 April 2003.

Bila ingin melihat melihat foto-foto yang lain, silahkan menulis ke murniandyusuf@yahoo.com

   

<< November 2009 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
01 02 03 04 05 06 07
08 09 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Thursday, March 24, 2005
Ulang Tahun Kami Berdua

Pagi ini seperti pagi lainnya di London
Langit abu-abu menghapus senyum matahari kemarin

Engkau bergegas
Lupa vitaminmu
Engkau kecup dan mengucap salam
Sedang aku masih membasuh Zaki

Tunggu....
Engkau tak dengar

Maaf aku tak pandai berkata
Tak penting kau mengingat

Terimakasihku
Untuk mememdam keluh
Untuk mendengar cerita-ceritaku
Untuk menjaga permata hatiku
Untuk membuatku jatuh cinta
Setiap hari

"Selamat Ulang Tahun" Suamiku
Meski dalam hati

Pagi ini rasanya tak sama
Ingin ku jatuh cinta lagi
Lebih lama dan lebih sering


                         Ulang tahun pernikahan kami ke-3, 24 Maret 2005

Posted at 03:01 am by murniati
Make a comment  

Monday, September 13, 2004
Setelah Ada Bom Lagi

Sambil menyeduh kopi saya bergerak dari dapur ke ruang tamu. Di Breakfast, Natasha Kaplinsky dengan intonasi serius mengabarkan adanya bom meledak di Kedubes Australia di Jakarta. Raut cantiknya tegang. (Saat itu) Enam orang meninggal. Lagi-lagi ??? pikir saya sambil mendengarkan suara koresponden BBC di Jakarta.

Dua jam kemudian beberapa kawan mengirimkan foto-foto amatir situasi setelah bom di sekitar lokasi. Seorang rekan menulis di salah-satu milis,"Satu menit yang lalu bom meledak di Kedutaan Besar Australia. Gelegarnya bisa terdengar dari kantor saya...".

Kurang lebih 40 menit kemudian saya asyik memantau berita-berita di situs Jakarta Post, TEMPO Interaktif,Kompas Cyber Media, Jawapos, Detik dan Liputan 6. Ada yang mengutuk, ada yang mengeluarkan peringatan supaya tidak bepergian ke Indonesia, ada yang berkeluh-kesah, ada yang bilang modusnya sama dengan bom di Bali & hotel Marriott. Liputan 6 menyebutnya Bom Kedubes Australia, beberapa rekan di milis menjuluki Bom Kuningan atau Plaza 89.

Esoknya muncul refleksi dan informasi lanjutan yang terus bergulir. Dibawah ini dua contoh yang saya ambil dari Liputan 6 dan Kompas:

Pertama, kutipan dari Fokus Kompas, 10 September 2004:

Enough is enough! Cukup sudah semua kebiadaban ini. Tiga tahun berturut-turut menjadi ajang pemboman besar dengan banyak korban jelas penghinaan. Penghinaan terhadap pemerintah Indonesia, dan penghinaan terhadap bangsa Indonesia.

Kedua, paragraf terakhir bertajuk "Indonesia Kembali Menangis" di Liputan 6:

Apa pun modus operandi peledakan ini, yang pasti peristiwa itu membuktikan bahwa Polri dan aparat keamanan Indonesia kembali kecolongan. Kondisi keamanan Indonesia pun kembali dipertanyakan dunia internasional. Kasus ini menoreh luka dalam bagi Indonesia setelah Bom Bali dan Marriott. Dan ironisnya lagi, peristiwa ini terjadi ketika masyarakat Indonesia sedang menyongsong pemilihan presiden putaran akhir. Akankah bom demi bom kembali mengguncang Tanah Air hingga negeri tercinta ini harus terus menangis?

Dalam kedua tulisan diatas, ekspresi sangat geregetan -marah,masygul,jengkel- dan penyesalan terekam kuat atas kembali terjadinya pemboman berkekuatan besar yang kembali menaikkan citra buruk Indonesia.

Penggunaan kalimat enough is enough  diatas bagi orang Inggris berarti sudah tidak perlu ada toleransi lagi, wong sudah disabari malah nglunjak; dengan kata lain mungkin editornya berpesan sudahlah hukum saja seberat-beratnya pelaku pemboman. Artikel tersebut menganggap bahwa kembali terjadinya pemboman adalah penghinaan terhadap bangsa Indonesia selama tiga tahun berturut-turut (paska 9/11).

Tajuk Liputan 6 pun menyarankan hal yang serupa. Pernyataan Da'i Bachtiar tentang kondisi keamanan yang kondusif menjelang pemilihan presiden minggu depan dianggap tak bertuah. Istilahnya kecolongan. Artinya tidak menyalahkan namun menyayangkan kelemahan Polri.

Opini   dalam Jawa Pos Online, 13 September 2004 menyarankan kelemahan Badan Intelijensi Nasional (BIN) dalam memprediksi aksi lanjutan teroris.

Sambil membaca berbagai analisis dan menelaah kalimat-kalimatnya, ada satu hal yang media tidak tulis: apakah media patut berintrospeksi seperti halnya Polri dan BIN?

Saya bertanya-tanya: apa saja yang media cetak,TV,maya dan radio beritakan dalam konteks pengeboman tiga tahun terakhir?  Adakah berita-berita lalu atau tulisan khusus dari para analis yang mengingatkan publik setelah Oktober 2002 bahwa bom bisa terjadi lagi? Saat itu, saya pun larut dalam keprihatinan setelah ratusan orang mati di Kuta dari foto-foto di the Guardian dan the Times. Terlebih lagi sedih melihat ekspresi muka tak bersalah pelakunya setelah divonis hukuman mati.

Saya tidak melihat ada artikel yang memprediksikan terjadinya kasus serupa. Begitu huru-hara mereda, berita-berita yang muncul adalah lesunnya pariwisata Bali. Tidak ada artikel seperti halnya yang Winston Churchill tulis tentang indikasi penggalangan kekuatan oleh Jerman dan kemungkinan Jerman menyerang Inggris dua tahun sebelum Perang Dunia II pecah.

Saya menganggap dalam konteks ini media pun ikut kecolongan. Fungsi kontrol sosialnya tumpul dengan memuat gosip selebriti dan gosip politik yang lebih menjual. Contohnya riuh-rendah soal Pemilu dan tudingan lemahnya sistem Teknologi Informasi disain Komisi Pemilihan Umum. Jadi teringat ekspresi Basuki Suhardiman saat pembajak situs merubah tanda gambar partai di halaman tabulasi suaranya di Radar Surabaya beberapa bulan silam. "Sopo sing gak mangkel omahe dileboni maling" (Siapa yang tidak jengkel rumahnya dimasuki pencuri, pen).  Mungkin begitu rasanya. Khoq bisa, ya?

Pemilihan waktu meledaknya bom saat para jurnalis baru masuk kantor pun menarik. Tidak perlu mengintip isi media kompetitor. Agenda pun satu dan sumber daya pun tercurah ke satu isu. Bergegas datang ke lokasi untuk mengambil foto-foto dramatis dan emosional dari lokasi. Meriset artikel-artikel penunjang. Berusaha mengontak nara-sumber vital yang sulit ditembus. Memuat perkembangan akhir setiap jam. Tujuannya: menggugah amarah dan kengerian publik.

Fitur korban pun muncul; salah satu korban meninggal seorang Ibu yang (saat berita dimuat) belum diketahui apakah sang putri tewas atau selamat.  Lalu diteruskan dengan kemungkinan lumpuhnya Elisabeth, sang anak yang selamat di berita nya hari ini. Hal yang menyengat perasaan puluhan juta Ibu-ibu.

Untuk liputan ini, saya menanyakan hal lain: tidakkah sebaiknya media meninggalkan sang ayah yang sedang berduka sendirian? perlukah perkembangan Elisabeth dimuat untuk memaku perhatian pemirsa?

Peter Conrad di the Observer  kemarin mendiskusikan etika pemotretan korban tragedi penyanderaan teroris Chechnya di Beslan, Russia pekan lalu. Ia bertanya: seharusnyakah kita meninggalkan seorang Ibu yang sedang memandangi anaknya yang terluka sendirian? Etiskah para fotografer memotret gadis beranjak dewasa yang digendong keluar oleh salah seorang regu penyelamat dengan menampakkan celana dalamnya?

Seharusnya memang tidak semua informasi dapat disajikan secara instan hanya karena teknologinya memungkinkan. Seharusnya pemuatan hal-hal yang sensitif seperti privacy patut diendapkan dan ditunggu perkembangannya sebelum dimuat. Sebelum semua orang tahu bahwa seorang Ibu secara tragis selamat sedangkan putrinya mati. 

Mungkin saya terlewat membaca tulisan bernas dia media yang mengajak publik dan pemerintah tetap awas. Mungkin saya salah. Namun, sembari menulis saya terus menghela nafas; miris melihat kualitas isi media Indonesia dengan dua jempol menunjuk ke bawah.

Seharusnya media pun mengakui bahwa mereka pun khilaf.


Posted at 09:00 am by murniati
Make a comment  

Sunday, August 22, 2004
Bersih-bersih itu Macho

Mas Yusuf senang sekali tersenyum-senyum menjelang pukul 8 malam (GMT) ketika saya duduk manis mendegarkan musik pembuka yang diikuti sosok Aggie dan Kim, sang pembawa acara How Clean is your House (Sebersih apa rumah anda?, pen.) di Channel 4 .

Dengan gaya Ibu-ibu centil, mereka masuk ke rumah sebuah keluarga/bujangan dan menjerit atau komat-kamit dalam semenit. Kamera mengarah ke lantai karpet bau anjing, serangga-serangga kecil berkeliaran di lantai dapur, sofa buluk, kompor tertutup lemak sisa menggoreng atau debu 2 cm yg melapisi lemari pajang.

"Kamu seneng banget,sih liat acara jorok kayak gitu,"(salah-satu) komentar suami.

Program ini mengupas rumah-rumah sangat amburadul di Inggris dan membersihkannya. Selama 25 menit, kedua perempuan 40-an bersama tim pembersihnya menyikat habis seluruh kotoran dan penghuni bukan manusia dengan tips menghilangkan lemak tebal di kompor, menyikat permukaan bak mandi, kloset atau lemari kayu antik. Bersama-sama dengan seluruh kliennya -orang-orang yang mau dibuka rahasia kejorokannya -mereka memandu dan memantau apakah dua minggu kemudian  rumah terjaga kebersihannya atau sebaliknya.

Mulanya saya menonton karena slotnya setelah Channel 4 News setiap pukul 7 malam (Senin-Jumat). Geli juga menyaksikan rumah seorang pembersih (cleaner) tak pernah dibersihkan sedikitpun selama bertahun-tahun. Alasannya karena sudah capek.   Lain hari, Ibu rumah-tangga dengan tiga anak; tempat tidur penuh dengan baju, lantai dengan mainan. Ada pula seorang pemain pasar uang yang berpenampilan rapi namun di dapurnya Kim menemukan 93 kaleng makanan anjing. Alasannya, tidak punya waktu dan tidak tahu harus mulai darimana.

Yang menarik dari program ini karena bersih-bersih ternyata bukan hal yang setiap orang dapat mengerjakan secara tepat dan reguler. Sebagian orang ternyata tidak tahu bagaimana cara membersihkan kaca, apalagi tahu bahwa campuran cuka, baking soda dan air yang diletakkan dalam wadah semprotan  mampu menghapus berbagai noda yang membekas. Seperti halnya mengkilapkan meja kayu mahoni dengan kaos kaki bekas. Membungkus boneka kain (soft toy) dengan sarung bantal sebelum mencucinya supaya tak rusak. Lalu cukup digantung setelah selesai tanpa dikeringkan.

Kim dengan sarung tangan merah-muda berbulu mengandalkan bahan-bahan yang biasa dipakai sehari-hari -cuka,jeruk nipis, baking soda- untuk membersihkan tanpa harus menggunakan aneka macam produk-produk pembersih yang memenuhi satu lorong di supermarket.

Yang lebih menarik, semua klien lega setelah rumahnya bersih dan sebagian bekerjasama dengan suami dan anak-anaknya supaya rumah tidak kembali jorok. Ini menunjukkan mereka mau membersihkan setelah mengetahui caranya. Meski cuek disentil supaya mengganti saluran, saya menganggap bersih-bersih itu :

a.keahlian yang bisa dipelajari dan mendatangkan keuntungan secara finansial 
b.kebiasaan yang memerlukan waktu dan tenaga 
c.(menjadi) kebutuhan yang tercipta karena pilihan A

Untuk beberapa saat saya melihat program tersebut tanpa memikirkan ketiganya. Baru Sabtu lalu, 14 Agustus, saat membuka lembar-lembar Weekend-nya the Daily Telegraph, saya ganti tersenyum. Artikel bertajuk "Domestic Gods" itu mengajukan 6 cara membuat laki-laki mau bersih-bersih:

-Tampilkan sisi machonya
-Buatlah jadwal siapa yang harus berbuat apa,kapan
-Lakukan secara bertahap, puji dia dan tunjukkan bagaimana lebih baiknya sesuatu tampak (setelah dibersihkan)
-Yakinkan bahwa bersih-bersih itu pekerjaan laki-laki; bicaralah tentang "alat-alat pembersih", beri tugas sederhana yang membutuhkan otot dan kekuatan
-Tunjukkan bahwa bersih-bersih merupakan olah-tubuh yang bagus
-Bila cara-cara sebelumnya gagal, sogok pun berlaku. Ajak makan malam kegemarannya atau suatu siang menonton bola tanpa gangguan

Hmm, boleh juga tipsnya. Pikiran segera melayang pada usaha membuat mas Yusuf mau belajar membersihkan kaca dengan bahasa lelaki. Sedikit merajuk atau merayu bisa pula efektif.

Namun yang lebih menarik lagi dari artikel ini adalah Spontex Men's Cleaning Academy di bagian akhirnya . Sebuah perusahaan dibentuk untuk memenuhi kebutuhan laki-laki yang ingin belajar membersihkan. Akunya Akademi Kebersihan pertama bagi laki-laki. Tarifnya £750 untuk kursus dua hari Sabtu dan Minggu. Per ORANG.  

Ada yang mau?

Sang penulis menceritakan pengalamannya mengikuti kursus ini. Menurut manajer senior produk Spontex, dalam surveynya 76% laki-laki menggunakan sikap tidak perduli (ignorance) sebagai dalih untuk tidak berbuat lebih (dalam hal bersih-bersih).

Untuk itu,  suasana maskulin ditonjolkan, yakni menyatakan bahwa sapu, kemucing, pengisap debu sebagai alat seperti halnya gergaji listrik, obeng dan tatah. Kemudian membuat lomba siapa yang tertinggi membersihkan kaca. Hasilnya? Sehabis kursus mereka merasa bangga tahu cara menyetrika atau teknik menyikat tempat cuci-piring. Ada bahkan yang ingin memberhentikan tukang bersih-bersihnya karena kini sudah mengerti caranya.

Terus-terang, ide bisnis ini inovatif. Bila selama ini jasa pembersih di Inggris masih dianggap pekerjaan kasar berdasarkan gajinya (£4-£10/jam), maka kursus lebih dari £40/jam itu terjual karena sikap sebagian laki-laki telah berubah terhadap kebersihan.
 
Bukan mereka lantas ingin membersihkan semuanya, melainkan berbagi tanggung-jawab dengan pasangannya. Bagi yang bujangan mungkin ini cara jitu mengambil-hati orang yang dicintainya. Yang lain karena menghemat biaya menggaji pembersih dengan jalan mengerjakannya sendiri. Bersih-bersih untuk lelaki bukan lagi memalukan malah meningkatkan rasa percaya dirinya.

Dalam sebuah liputan Newsnight tentang kehidupan gaya-hidup wanita membujang di Jepang, ada pula kursus teknik membersihkan bagi para pensiunan (laki-laki). Pekerjaan yang masih kerap identik dengan "urusan istri" ini menyenangkan bagi para suami yang tidak lagi bekerja itu karena mereka kini dapat menyenangkan istri-istrinya. Membuatnya tetap dihargai.  

Mas Yusuf masih tetap menggodaku, sedangkan Kim&Aggie menambah jumlah tabungannya dengan menuliskan tips yang mereka punya. Padahal, Masku ini tidak perlu mengeluarkan sejumlah uang tersebut dengan kursus gratis dari istrinya.

Omong-omong, apa pendapatnya kalo si istri jadi konsultan bersih-bersih?

Bisa nggak,ya ini diterapkan di Indonesia?
 


Posted at 05:06 pm by murniati
Make a comment  

Friday, August 20, 2004
Terimakasih, Siska


Kita hanya sejenak bertemu
Pada hari keduaku di London di Nansen Village
Di telepon ketika kau menyampaikan selamat atas pernikahanku dan lahirnya Zaki
Idul Adha tahun ini di Al-Ikhlas
Terakhir, saat matamu terpejam tabah di RS Charing Cross

Tujuh minggu kemudian Allah memelukmu kembali
Melepaskanmu dari rasa sakit
Meringankanmu
Menentukan kata akhir dari ikhtiarmu

Saat letih merawat Zaki
Kami akan mengingat kesabaranmu terhadap Kirana
Keinginanmu untuk hidup melihat Kirana dewasa

Saat lemah menghadapi ujian
Kami akan mengingat kekuatanmu melawan efek kemoterapi 

Kelak kami ceritakan pada Kirana 
Cerita-cerita ceriamu
Ketegaranmu
Tawakalmu saat merintih sakit
Cintamu
pada Chris dan Kirana

Terimakasih, Siska
Semoga Allah melapangkan kuburmu
Sejak hari ini
Dengan bekal amal shalihmu


Siska meninggalkan Chris Cartershaw dan Kirana, putrinya, 2 tahun 5 bulan karena kanker pada 18 Agustus 2004. Almarhumah dimakamkan pada 20 Agustus 2004 di Mortlake Cemetery, Clifford Avenue, London SW14.


Posted at 04:51 am by murniati
Comments (2)  

Thursday, August 19, 2004
Nonton 17-an

Saling jumpa,tergelak, mengunyah jajan pasar, makan bakso, terpingkal-pingkal dengan goyang aduhai dangdut, berleha-leha,malu-malu bergoyang, foto-foto saja....ini rekaman suasana 17-an 2004 di Wisma Nusantara, kediaman resmi Duta Besar Indonesia di London. Karin
dan Rani menuliskan kesan-kesannya. Foto-foto lain lihat punya Miya dan Novriana.




Dendang dangdut penghangat...belum semenit semua pada turun bergoyang. Huhuiii...







Pak Ju...nggak ikutan? Bule-bule tuh malu-malu,Pak...lagian hujannya sudah selesai


 

Mbak Ikke Nurjannah yang ditunggu-tunggu. Meski tidak bisa mengajak Pak Ju bergoyang, berhasil juga menggoda Nilton (tampak di belakang Ikke) ber-Kopi Dangdut



Ikke terpana oleh goyang Cici Lestari. "Ini dia Inul-nya London" ujarnya.


Posted at 02:07 am by murniati
Make a comment  

Thursday, August 12, 2004
Kisah Rumah Musim Panas

Rumah Musim Panas adalah salah-satu program mempercantik rumah mungil kami, 117 Meadfield.
Berkisah? Ya, kami berkisah tentang ide,rencana,proses dan hasil-jadinya.



Ide dan Cari-carinya

Sebelumnya kami punya shed, tempat menyimpan alat-alat di kebun kecil belakang rumah.
Ia masih tegak,namun warnanya telah letih -oak yang mengabur-dan sedikit ndoyong.Peninggalan Pak Harry dan Ibu Katie, pemilik lama yang pindah ke Luton.
 
Awalnya, musim semi 2003, saat Bapak-Ibu kami bergantian menjenguk cucunya yang baru lahir.
Bapak-Ibu Murni datang lebih dahulu. Suatu sore, Bapak menyeletuk,"Enak,yo nek iso ngrokok nang shed mburi. Ora kademen".

Rumah kami,seperti rumah-rumah Inggris lainnya, rapat. Jendela-jendela double-glazing nya berfungsi menghalau angin musim dingin yang menusuk masuk. Merokok didalam rumah -meski sebentar dan duduk didekat jendela- selalu meninggalkan bau pekat yang susah hilangnya.

Beberapa kali beliau duduk merokok didalam shed yang dingin. Lumayan daripada menggigil udara musim semi Inggris. Mulai hangat,sih namun anginnya tetap semripit. Beliau mengulangi ide tersebut dengan ekspresi lain. "Iku shed-mu nek dike'i radiator ae wis anget. Aku iso moco nang kono". Setuju.

Setiap kali aku memandang keluar dari jendela dapur, bayangan duduk-duduk santai di rumah musim panas semakin lama kian asyik. Apalagi membayangkannya saat atap shed tertutup salju Februari.
Pikir-pikir, apa nggak mahal,ya? Sudahlah tahun depan saja. Kami sudah punya rencana mengganti pemanas ruangan rumah yg sudah mengabdi lebih dari 20 tahun. Supaya energinya lebih efisien.
Dengan kata lain, tagihan gas bakal £100 lebih murah pertahunnya. Aku titipkan angan-angan ini pada shed yang muram.

Akhir Mei 2004 mas Yusuf mulai mengganti dan memasang pemanas. Asistennya sang istri dan Zaki,13 bulan. Mulai dengan menggelontor air didalam pipanya dengan menyewa alat sedot dari HSS dekat rumah. Sore-sore yang cerah kami kecapean. Mas Yusuf bolak-balik ke B&Q untuk membeli alat ini-itu. Sementara saya memantau gelontoran air yang mulai bening. Sambil asyik menggendong Zaki kami menikmati makan-malam ayam Nandos.

"Sudahlah ganti sekalian shednya," kata mas Yusuf sambil memandang ke kebun kecil kami. Saya yang sedang menyuapi Zaki langsung tertarik dengan perkataannya.

"Are you sure?"
"Sekalian,deh biar sewa skipnya yang gede", jawabnya.
Aku menatapnya dengan pertanyaan yang ia pahami.
"Insyaallah cukup, khoq (duitnya)".

Aku senang, meski belum lega. Impian Bapak-Bapak kami untuk punya tempat ngeces (merokok,pen.) saat mereka datang kembali terkabul. Lha sekop,garpu,alat pemotong rumputnya mau dialokasikan kemana? "Diletakkan di storage box disampingnya saja", lanjutnya kemudian. Okidoki.

Kami lihat-lihat summer house dan storage box selama seminggu. Cari di Argos, Index dan situs-situs lokal yang menjual alat-alat kebun. Ada berbagai macam bentuk dan harganya mulai dari £400 sampai £1,500. Sama ukurannya namun beda fungsi meski harganya hampir sama. Sayang, ya kalo bangunan kayu berharga ratusan pounds cuma jadi rumahnya alat-alat.

Mending yang multi-fungsi. Kalo musim panas buat leyeh-leyeh dan di musim dingin jadi rumah tanaman yang tak tahan beku. Selisih harga shed dan summer house berkisar £100-£150. Situs-situs ini juga menjual rumah main anak. Ada yang terbuat dari plastik dan kayu. Yang dari kayu ini berkisar £200-£350. Hampir sama dengan rumah beneran. Setahun lagi Zaki kemungkian sudah ingin bermain-main sendiri atau mengundang teman-teman sebayanya.

Kami mendiskusikannya sambil menidurkan Zaki. Setelah bersama-sama duduk menjelajah beberapa situs dan membandingkan harganya, kami memutuskan memesannya dari Garden's Building Direct.
Model Waltons Sussex berukuran 8'x 8'(  mx  m). Nggak mau yang lebih mahal karena itu saja sudah memadai.

Pemasangan

Pada 21 Juni kiriman sampai. Terdiri dari lantai dasar, atap, pelapis atap, pintu, jendela samping dan bagian samping kiri,kanan dan belakang. Yang lain2nya berupa paku,sekrup,instruksi cara pasang, pagar, veranda, plastik tebal sebagai kaca pintu dan lis pintu.

Pengepakannya rapih dan lengkap. Saya melongo menyaksikan sang supir yang ramah mengangkat sendirian bagian-bagian rumah kayu ke samping rumah. Kuat banget,ya. Saya hanya bisa tersenyum berterimakasih setelah menandatangani bukti pengiriman (Inginnya memberi tip, namun di Inggris bukan sebuah kebiasaan).

Sebelum dipasang, shed harus roboh dahulu. Karena mas Yusuf baru bisa mengerjakannya akhir minggu, saya dan Ibu melapisi dulu bagian belakang dan samping kanannya dengan cat khusus untuk merawat kayu. Ini karena kedua bagian tersebut tidak bisa di-cat karena tertutup pagar apabila mengerjakannya setelah didirikan. Setelah itu memilah barang-barang dari shed yang masih bisa dipakai.

Minggu,27 Juni kami melepas satu persatu bagian shed. Alhamdulillah angin semilir dan matahari meringankan kami menggergaji kayu2nya,mengangkatnya bertahap ke dalam skip dan membersihkan paku,pecahan kaca dan serpihan-serpihan kayu.

Setelah asyik menendang bagian2 rapuh atau berkelit dengan paku,  sekitar tiga jam kemudian kami selesai. Bukan sekedar keringat saja atau rengekan Zaki ingin membantu. Tangan kanan mas Yusuf melepuh tanpa sadar setelah beberapa kali memotong-motong dengan gergaji listrik. Kemudian kaki kirinya tergores pecahan kaca saat naik ke dalam skip untuk mengatur isinya. Hikmahnya, pakailah sepatu olahraga/boots dan sarung tangan selama bekerja. Juga kacamata plastik pelindung mata saat menggergaji.

Sisa hari kami lalui dengan membeli semen, meletakkan bata-bata merah seukuran dasarnya dan mengukur kerataan bata sebelum di-semen.

Untuk mendirikannya, kami perlu dibantu Aat, teman yang tinggal di Walthamstow Central. Alasannya, pada saat memasang bagian kirinya, saya harus menahan pertemuan bagian belakang dan samping kanan yang sudah terpasang.

Sementara itu mas Yusuf tidak sekuat sang supir Inggris yang mengangkatnya sendirian. Selain itu, bagian kanan dan belakang tidak dipaku mati ke dasar agar dapat digeser; menyesuaikan bagian kanan dan kiri. Apabila ketiganya sudah terpasang, barulah dikuatkan paku-pakunya dan atap dipasang.
Aat baru bisa membantu pada Sabtu dua pekan berikutnya. Pada 26 Juni ada konser menyambut api olimpiade di The Mall sehingga Aat mesti masuk karena toko sandwich tempatnya bekerja adalah yang terdekat dari area konser.

Pengerjaannya mulai dari menyemen bata. Saya berharap-harap terus supaya cuaca terang agar semen cepat kering. Separuh hari habis menunggu semen kering dan mengukur kerataan bata. Semen tak rata, jebol. Pindah ke tempat lain. Geser ke kiri. Semen lagi.

Setelah ngopi sehabis Ashar,dasar diletakkan diatasnya. Kemudian bagian belakang,kiri dan kanan. Wah, kurang masuk sedikit bagian kanannya karena pagar batas dengan tetangga miring. Atap dipasang. Maghrib tiba. Sudah lewat jam 9 malam ketika Aat menerima telepon sang istri.

Sudah berdiri namun belum sempurna. Prioritas berikutnya memasang pelapis atap yang menahan hujan karena seminggu sesudahnya cuaca mendung dan hujan. Rasanya ingin cepat selesai. Pada 10 Juli Mbak Endang, teman yang tinggal di Stoke Newington, Timur London mengundang BBQ. Undangannya sudah sebulan sebelumnya.

Kami berjanji datang bersama Ibu sementara ingin sekali pelapis atap terpasang. Mas Yusuf memutuskan untuk memasang dahulu sebelum pergi. "Kira-kira jam 5-an (sore) kita pergi," ujarnya.

Pelapis atap berbentuk gulungan tebal itu panjangnya 10 meter. Kami potong jadi tiga; masing-masing 2,82mx1m untuk kiri,kanan dan tengah. Bagian kiri dan kanan mesti ditarik menjulur keluar untuk dipaku pada sisi atap.Tengah untuk menjembatani kiri dan kanan.

Mas Yusuf naik ke atas atap, menebarkan potongan pelapis di atas kayu sementara saya menyerahkannya dari bawah. Pas sekali karena pertumpukan potongan tengah akibat pertemuan dengan kiri atau kanannya sekitar 10 cm. Zaki datang memungut paku-pakunya. Kami mesti mengalihkan perhatiannya dengan menyerahkan obeng. Tak puas, ia tetap minta paku. Kupanggil Ibu.

Saya memegang pelapis supaya tak terus berpindah waktu dipaku.Awalnya karena setelah paku-paku menempel diatas potongan atap kiri, bagian yang mesti disisakan menjulur untuk depan kurang. Paku-pakupun harus diambil lagi.

Tugas saya juga melihat apakah sisa untuk bagian depan cukup dan memantau potongan pelapis kiri dan kanan tak bergeser. Mas Yusuf menggeser tangga ke bagian depan dan belakang. Naik-turun melihat hasilnya memaku. Cuaca panas, mendung, panas.
Zaki meronta turun dalam gendongan Ibu. Tak lama saat mas Yusuf diatas atap dan saya sedang memegangi pemasangan pertemuan potongan kanan dan tengah, air dari langit mengucur keras.
Kami tertegun sesaat dan bergegas lari ke dalam rumah. Hujan hanya sekitar 15 menit. Lalu matahari menggantikannya. Kaos mas Yusuf sudah basah. Nge-teh dulu, lah.

Bu Jackie, tetangga sebelah mengingatkan apakah potongan tengah dan kanan pelapis sudah menumpuk satu sama lain saat kami melanjutkan kembali. Pukul 4 sore. Kuingatkan mas Yusuf untuk berhenti. Ia terus bekerja.Aku minta ijin masuk memberi Zaki susu. Ibu berganti mengawasi.

Pukul 5 sore. Masih memaku kayu diatas pelapis di bagian samping depan dan belakang. Aku bersiap-siap. Ibu kembali mengingatkan undangan BBQ. Setengah jam berlalu.
Dengan wajah sumringah meski lelah mas Yusuf masuk.Sudah kelihatan cantik, apalagi dengan hasil lapisan cat kayu hasil karya Ibu di bagian dalam dan luarnya.

(bersambung dulu....pegel...)


 


 



Posted at 05:22 am by murniati
Make a comment