|
Rumah Musim Panas adalah salah-satu program mempercantik rumah mungil kami, 117 Meadfield.
Berkisah? Ya, kami berkisah tentang ide,rencana,proses dan hasil-jadinya.

Ide dan Cari-carinya
Sebelumnya kami punya shed, tempat menyimpan alat-alat di kebun kecil belakang rumah.
Ia masih tegak,namun warnanya telah letih -oak yang mengabur-dan sedikit ndoyong.Peninggalan Pak Harry dan Ibu Katie, pemilik lama yang pindah ke Luton.
Awalnya, musim semi 2003, saat Bapak-Ibu kami bergantian menjenguk cucunya yang baru lahir.
Bapak-Ibu Murni datang lebih dahulu. Suatu sore, Bapak menyeletuk,"Enak,yo nek iso ngrokok nang shed mburi. Ora kademen".
Rumah kami,seperti rumah-rumah Inggris lainnya, rapat. Jendela-jendela double-glazing nya berfungsi menghalau angin musim dingin yang menusuk masuk. Merokok didalam rumah -meski sebentar dan duduk didekat jendela- selalu meninggalkan bau pekat yang susah hilangnya.
Beberapa kali beliau duduk merokok didalam shed yang dingin. Lumayan daripada menggigil udara musim semi Inggris. Mulai hangat,sih namun anginnya tetap semripit. Beliau mengulangi ide tersebut dengan ekspresi lain. "Iku shed-mu nek dike'i radiator ae wis anget. Aku iso moco nang kono". Setuju.
Setiap kali aku memandang keluar dari jendela dapur, bayangan duduk-duduk santai di rumah musim panas semakin lama kian asyik. Apalagi membayangkannya saat atap shed tertutup salju Februari.
Pikir-pikir, apa nggak mahal,ya? Sudahlah tahun depan saja. Kami sudah punya rencana mengganti pemanas ruangan rumah yg sudah mengabdi lebih dari 20 tahun. Supaya energinya lebih efisien.
Dengan kata lain, tagihan gas bakal £100 lebih murah pertahunnya. Aku titipkan angan-angan ini pada shed yang muram.
Akhir Mei 2004 mas Yusuf mulai mengganti dan memasang pemanas. Asistennya sang istri dan Zaki,13 bulan. Mulai dengan menggelontor air didalam pipanya dengan menyewa alat sedot dari HSS dekat rumah. Sore-sore yang cerah kami kecapean. Mas Yusuf bolak-balik ke B&Q untuk membeli alat ini-itu. Sementara saya memantau gelontoran air yang mulai bening. Sambil asyik menggendong Zaki kami menikmati makan-malam ayam Nandos.
"Sudahlah ganti sekalian shednya," kata mas Yusuf sambil memandang ke kebun kecil kami. Saya yang sedang menyuapi Zaki langsung tertarik dengan perkataannya.
"Are you sure?"
"Sekalian,deh biar sewa skipnya yang gede", jawabnya.
Aku menatapnya dengan pertanyaan yang ia pahami.
"Insyaallah cukup, khoq (duitnya)".
Aku senang, meski belum lega. Impian Bapak-Bapak kami untuk punya tempat ngeces (merokok,pen.) saat mereka datang kembali terkabul. Lha sekop,garpu,alat pemotong rumputnya mau dialokasikan kemana? "Diletakkan di storage box disampingnya saja", lanjutnya kemudian. Okidoki.
Kami lihat-lihat summer house dan storage box selama seminggu. Cari di Argos, Index dan situs-situs lokal yang menjual alat-alat kebun. Ada berbagai macam bentuk dan harganya mulai dari £400 sampai £1,500. Sama ukurannya namun beda fungsi meski harganya hampir sama. Sayang, ya kalo bangunan kayu berharga ratusan pounds cuma jadi rumahnya alat-alat.
Mending yang multi-fungsi. Kalo musim panas buat leyeh-leyeh dan di musim dingin jadi rumah tanaman yang tak tahan beku. Selisih harga shed dan summer house berkisar £100-£150. Situs-situs ini juga menjual rumah main anak. Ada yang terbuat dari plastik dan kayu. Yang dari kayu ini berkisar £200-£350. Hampir sama dengan rumah beneran. Setahun lagi Zaki kemungkian sudah ingin bermain-main sendiri atau mengundang teman-teman sebayanya.
Kami mendiskusikannya sambil menidurkan Zaki. Setelah bersama-sama duduk menjelajah beberapa situs dan membandingkan harganya, kami memutuskan memesannya dari Garden's Building Direct.
Model Waltons Sussex berukuran 8'x 8'( mx m). Nggak mau yang lebih mahal karena itu saja sudah memadai.
Pemasangan
Pada 21 Juni kiriman sampai. Terdiri dari lantai dasar, atap, pelapis atap, pintu, jendela samping dan bagian samping kiri,kanan dan belakang. Yang lain2nya berupa paku,sekrup,instruksi cara pasang, pagar, veranda, plastik tebal sebagai kaca pintu dan lis pintu.
Pengepakannya rapih dan lengkap. Saya melongo menyaksikan sang supir yang ramah mengangkat sendirian bagian-bagian rumah kayu ke samping rumah. Kuat banget,ya. Saya hanya bisa tersenyum berterimakasih setelah menandatangani bukti pengiriman (Inginnya memberi tip, namun di Inggris bukan sebuah kebiasaan).
Sebelum dipasang, shed harus roboh dahulu. Karena mas Yusuf baru bisa mengerjakannya akhir minggu, saya dan Ibu melapisi dulu bagian belakang dan samping kanannya dengan cat khusus untuk merawat kayu. Ini karena kedua bagian tersebut tidak bisa di-cat karena tertutup pagar apabila mengerjakannya setelah didirikan. Setelah itu memilah barang-barang dari shed yang masih bisa dipakai.
Minggu,27 Juni kami melepas satu persatu bagian shed. Alhamdulillah angin semilir dan matahari meringankan kami menggergaji kayu2nya,mengangkatnya bertahap ke dalam skip dan membersihkan paku,pecahan kaca dan serpihan-serpihan kayu.
Setelah asyik menendang bagian2 rapuh atau berkelit dengan paku, sekitar tiga jam kemudian kami selesai. Bukan sekedar keringat saja atau rengekan Zaki ingin membantu. Tangan kanan mas Yusuf melepuh tanpa sadar setelah beberapa kali memotong-motong dengan gergaji listrik. Kemudian kaki kirinya tergores pecahan kaca saat naik ke dalam skip untuk mengatur isinya. Hikmahnya, pakailah sepatu olahraga/boots dan sarung tangan selama bekerja. Juga kacamata plastik pelindung mata saat menggergaji.
Sisa hari kami lalui dengan membeli semen, meletakkan bata-bata merah seukuran dasarnya dan mengukur kerataan bata sebelum di-semen.
Untuk mendirikannya, kami perlu dibantu Aat, teman yang tinggal di Walthamstow Central. Alasannya, pada saat memasang bagian kirinya, saya harus menahan pertemuan bagian belakang dan samping kanan yang sudah terpasang.
Sementara itu mas Yusuf tidak sekuat sang supir Inggris yang mengangkatnya sendirian. Selain itu, bagian kanan dan belakang tidak dipaku mati ke dasar agar dapat digeser; menyesuaikan bagian kanan dan kiri. Apabila ketiganya sudah terpasang, barulah dikuatkan paku-pakunya dan atap dipasang.
Aat baru bisa membantu pada Sabtu dua pekan berikutnya. Pada 26 Juni ada konser menyambut api olimpiade di The Mall sehingga Aat mesti masuk karena toko sandwich tempatnya bekerja adalah yang terdekat dari area konser.
Pengerjaannya mulai dari menyemen bata. Saya berharap-harap terus supaya cuaca terang agar semen cepat kering. Separuh hari habis menunggu semen kering dan mengukur kerataan bata. Semen tak rata, jebol. Pindah ke tempat lain. Geser ke kiri. Semen lagi.
Setelah ngopi sehabis Ashar,dasar diletakkan diatasnya. Kemudian bagian belakang,kiri dan kanan. Wah, kurang masuk sedikit bagian kanannya karena pagar batas dengan tetangga miring. Atap dipasang. Maghrib tiba. Sudah lewat jam 9 malam ketika Aat menerima telepon sang istri.
Sudah berdiri namun belum sempurna. Prioritas berikutnya memasang pelapis atap yang menahan hujan karena seminggu sesudahnya cuaca mendung dan hujan. Rasanya ingin cepat selesai. Pada 10 Juli Mbak Endang, teman yang tinggal di Stoke Newington, Timur London mengundang BBQ. Undangannya sudah sebulan sebelumnya.
Kami berjanji datang bersama Ibu sementara ingin sekali pelapis atap terpasang. Mas Yusuf memutuskan untuk memasang dahulu sebelum pergi. "Kira-kira jam 5-an (sore) kita pergi," ujarnya.
Pelapis atap berbentuk gulungan tebal itu panjangnya 10 meter. Kami potong jadi tiga; masing-masing 2,82mx1m untuk kiri,kanan dan tengah. Bagian kiri dan kanan mesti ditarik menjulur keluar untuk dipaku pada sisi atap.Tengah untuk menjembatani kiri dan kanan.
Mas Yusuf naik ke atas atap, menebarkan potongan pelapis di atas kayu sementara saya menyerahkannya dari bawah. Pas sekali karena pertumpukan potongan tengah akibat pertemuan dengan kiri atau kanannya sekitar 10 cm. Zaki datang memungut paku-pakunya. Kami mesti mengalihkan perhatiannya dengan menyerahkan obeng. Tak puas, ia tetap minta paku. Kupanggil Ibu.
Saya memegang pelapis supaya tak terus berpindah waktu dipaku.Awalnya karena setelah paku-paku menempel diatas potongan atap kiri, bagian yang mesti disisakan menjulur untuk depan kurang. Paku-pakupun harus diambil lagi.
Tugas saya juga melihat apakah sisa untuk bagian depan cukup dan memantau potongan pelapis kiri dan kanan tak bergeser. Mas Yusuf menggeser tangga ke bagian depan dan belakang. Naik-turun melihat hasilnya memaku. Cuaca panas, mendung, panas.
Zaki meronta turun dalam gendongan Ibu. Tak lama saat mas Yusuf diatas atap dan saya sedang memegangi pemasangan pertemuan potongan kanan dan tengah, air dari langit mengucur keras.
Kami tertegun sesaat dan bergegas lari ke dalam rumah. Hujan hanya sekitar 15 menit. Lalu matahari menggantikannya. Kaos mas Yusuf sudah basah. Nge-teh dulu, lah.
Bu Jackie, tetangga sebelah mengingatkan apakah potongan tengah dan kanan pelapis sudah menumpuk satu sama lain saat kami melanjutkan kembali. Pukul 4 sore. Kuingatkan mas Yusuf untuk berhenti. Ia terus bekerja.Aku minta ijin masuk memberi Zaki susu. Ibu berganti mengawasi.
Pukul 5 sore. Masih memaku kayu diatas pelapis di bagian samping depan dan belakang. Aku bersiap-siap. Ibu kembali mengingatkan undangan BBQ. Setengah jam berlalu.
Dengan wajah sumringah meski lelah mas Yusuf masuk.Sudah kelihatan cantik, apalagi dengan hasil lapisan cat kayu hasil karya Ibu di bagian dalam dan luarnya.
(bersambung dulu....pegel...)
|